BAB
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jagung Zea mays L.
Merupakan tanaman berumah satu Monoecious dimana letak bunga jantan terpisah
dengan bunga betina pada satu tanaman. Jagung termasuk tanaman C4 yang mampu
beradaptasi baik pada faktor-faktor pembatas pertumbuhan hasil. Daun tanaman C4
sebagai agen penghasil fotosintat yang kemudian didistribusikan, memiliki
sel-sel seludang pelbuluh yang mengandung klorofil. Di dalam sel ini terjadi
dekarboksilasi malat dan aspartat yang menghasilkan CO2 yang kemudian memasukki
siklus calvin membentuk pati dan sukrosa. Di tinjau dari segi kondisi
lingkungan, tanaman C4 teradaptasi pada terbatasnya banyak faktor seperti
intensitas radiasai surya tinggi dengan suhu siang dan malam yang tinggi, curah
hujan yang rendah dengan cahaya musiman tinggi disertai suhu yang tinggi, serta
kesuburan tanah yang relatif rendah. Sifat-sifat menguntungkan dari jagung
sebagai tanaman C4 antara lain aktifitas
fotosintesis pada keadaan normal relatif tinggi, fotorespirasi sangat rendah,
transpirasi rendah serta efisien dalam penggunaan air. Sifat-sifat tersebut
merupakan sifat fisiologis dan anatomis yang sangat menguntungkan dalam
kaitannya dengan hasil.
Kedudukan tanaman jagung dalam taksonomi
adalah:
Ordo :
Tripsaceae
Famili :
Poaceae
Sub-famili : Panicoideae
Genus :
Zae
Spesies :
Zea Mays L.
Tanaman Jagung telah
lama dibudidayakan di Indonesia, akan tetapi rata-rata hasilnya relatif lebih
rendah, rendahnya hasil jagung terutama disebabkan oleh pengelolaan tanah dan
tanaman yang belum mencapai kondisi optimal bagi pertumbuhannya, seperti
pemupukan yang belum memadai dan kondisi lahan yang bersifat masam.
Telah diketahui produksi benih tanaman
jagung dapat dipengaruhi oleh lingkungan seperti iklim dan kondisi lahan,
varietas ditanam. Lahan sebagai tempat tumbuh tanaman perlu mendapatkan
perhatian yang seksama. Kekurangan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman
dapat diberikan melalui pemupukan. Takaran, cara dan waktu pemupukan yang tepat
dan disertai oleh pengolahan tanah yang baik, dapat membantu meningkatkan
ketersediaan hara yang diperlukan dan akan memberikan hasil jagung yang lebih
tinggi. Pemupukan yang tepat, berbeda tergantung dari kesuburan dan jenis
tanahnya. Bagi lahan-lahan yang bersifat masam, ketersediaan P dapat
ditingkatkan melalui pengapuran
Populasi tanaman juga
merupakan salah satu faktor yang dapat
menentukan produksi tanaman. Populasi tanaman atau jarak tanam erat hubungannya
dengan umur varietas jagung yang ditanam.
1.2 Rumusan
Masalah
- Bagaimana cara memproduksi benih jagung yang baik?
- Hal-hal apa saja yang harus di penuhi dalam produksi benih jagung?
- Faktor apa saja yang mempengaruhi produksi benih jagung?
1.3 Tujuan
- Mengetahui Bagaimana cara memproduksi benih jagung yang baik
- Mengetahui Hal-hal apa saja yang harus di penuhi dalam produksi benih jagung
- Mengetahui apa saja yang mempengaruhi produksi benih jagung
BAB
2. TINJAU TEORI
2.1 Asal Usul Tanaman
Jagung
Jagung
(Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai
pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal dengan istilah
tepung
jagung
atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung bulir dan tepung
tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai
penghasil bahan farmasi.
Berdasarkan temuan-temuan genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan
di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah
pegunungan di selatan Peru pada 4.000 tahun yang lalu. [1] Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung budidaya (Zea mays ssp. mays)
merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7.000 tahun oleh penduduk
asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays
ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan
semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays.
Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan
yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 kultivar jagung, baik yang terbentuk secara alami maupun dirakit
melalui pemuliaan tanaman
2.1.1
Teori Asal Asia
Tanaman jagung yang ada di wilayah Asia diduga berasal dari
Himalaya. Hal ini ditandai oleh ditemukannya tanaman keturunan jali (jagung
jali, Coix spp) dengan famili Aropogoneae.Kedua spesies ini mempunyai lima
pasang kromosom. Namun teori ini tidak mendapat banyak dukungan.
2.1.2
Teori Asal Andean
Tanaman jagung berasal dari dataran tinggi Andean Peru,
Bolivia, dan kuador. Hal ini dukung oleh hipotesis bahwa jagung berasal dari
Amerika elatan dan jagung Andean mempunyai keragaman genetic yang luas terutama
di daratan tinggi peru. kelemahan teori inia adalah ditemukannya kerabat liar
seperti teosinte di dataran tinggi tersebut. Mangelsdorf seorang ahli biologi
evolusi yang menghususkan perhatian pada tanamn jagung menampik hipotesis ini.
2.1.3
Teori Asal Meksiko
Banyak ilmuwan percaya bahwa jagung berasal dari Meksiko,
karena jagung dan spesies liar jagung teosinte sejak lama ditemukan di daerah
tersebut, dan masih ada di habitat asli hingga sekarang. Ini juga mendukung
ditemukannya fosil tepung sari dan tongkol jagung dalam gua, dan kedua spesies
mempunyai keragaman genetic yang luas. Teosinte dipercaya sebagai nenek moyang
tanaman jagung. Jagung telah dibudidayakan di Amerika Tengah mecsiko bagian
selatan sekitar 8000 – 10.000 tahun yang lalu.dari penggalian di temukan jagung
berukuran kecil, yang diperkirakan usianya mencapai sekitar 7000 tahun. Menurut
pendapat beberapa ahli botani teosinte Zea mays spp.sebagai nenek moyang
tanaman jagung merupakan tumbuhan liar yang berasal dari lembah sungai Balsas.
Lembah di meksiko selatan. Bukti genetic antropologi arkeologi menunjukkan
bahwa daerah asal jagung adalah di Amerika Selatan daerah ini jagung tersebar
dan di tanam di seluruh dunia.
2.2
Deskripsi
Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150
hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh
kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.
Tinggi
tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian
antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman
biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan.
Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya
jagung tidak memiliki kemampuan ini. Bunga betina jagung berupa
"tongkol" yang terbungkus oleh semacam pelepah dengan
"rambut". Rambut jagung sebenarnya adalah tangkai putik.
Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai
kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman
yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah
yang membantu menyangga tegaknya tanaman.
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum
dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya
tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas
terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun
tidak banyak mengandung lignin.
Daun
jagung adalah daun
sempurna.
Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai
daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu
tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada
daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma
dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting
dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah
(diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur
khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi
oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak
tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan
beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku,
di antara batang dan pelepah daun.
Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu
tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas
unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut
sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan
2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).
ciri-ciri:
- panjang
- berisi
- ada buahya
Klasifikasi
ilmiah
- Kerajaan: Plantae
- (tidak termasuk) Monocots
- (tidak termasuk) Commelinids
- Ordo: Poales
- Famili: Poaceae
- Genus: Zea
- Spesies: Z. mays
- Nama: binomial
Zea
mays ssp. maysL.
Jagung (Zea mays L.)merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting,
selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan
Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat.
Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara)
juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber
karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun
tongkolnya), diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal
dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari
tepung bulir dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang
dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika
juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi
2.3
Kandungan Gizi
Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada
pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan
kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan
amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan
amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi
lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis diketahui
mengandung amilopektin lebih rendah tetapi mengalami peningkatan fitoglikogen
dan sukrosa.
Kandungan
gizi Jagung per 100 gram bahan adalah:
- Kalori : 355 Kalori
- Protein : 9,2 gr
- Lemak : 3,9 gr
- Karbohidrat : 73,7 gr
- Kalsium : 10 mg
- Fosfor : 256 mg
- Ferrum : 2,4 mg
- Vitamin A : 510 SI
- Vitamin B1 : 0,38 mg
- Air : 12 gr
Dan bagian yang dapat dimakan 90 %. Untuk ukuran yang
sama, meski jagung mempunyai kandungan karbohidrat yang lebih rendah, namum
mempunyai kandungan protein yang lebih banyak. Jagung merupakan tanaman semusim
(annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari.
2.4 Pemanfaatan
Selain sebagai bahan pangan dan bahan baku pakan, saat ini
jagung juga dijadikan sebagai sumber energi alternatif. Lebih dari itu,
saripati jagung dapat diubah menjadi polimer sebagai bahan campuran pengganti
fungsi utama plastik. Salah satu perusahaan di Jepang telah mencampur polimer
jagung dan plastik menjadi bahan baku casing komputer yang siap dipasarkan.
Produksi jagung dan perdagangan dunia
Provinsi penghasil jagung di Indonesia : Jawa
Timur : 5 jt ton; Jawa Tengah : 3,3 jt ton; Lampung : 2 jt ton;
Sulawesi Selatan: 1,3 jt ton; Sumatera Utara : 1,2 jt ton; Jawa
Barat : 700 – 800 rb ton, sisa lainnya (NTT, NTB, Jambi dan Gorontalo)
dengan rata-rata produksi jagung nasional 16 jt ton per tahun
Produsen jagung terbesar saat ini adalah Amerika Serikat
(38,85% dari total produksi dunia), diikuti China 20,97%; Brazil 6,45%; Mexico
3,16%; India 2,34%; Afrika Selatan 1,61%; Ukraina 1,44% dan Canada 1,34%.
Sedangkan untuk negara-negara Uni Eropa sebanyak 7,92% dan negara-negara
lainnya 14,34%. Total produksi jagung pada tahun 2008/2009 adalah sebesar 791,3
juta MT
Sumber: Wikipedia.
BAB
3. PEMBAHASAN
3.1
Budidaya Tanaman Jagung
Jagung merupakan
komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah padi yang akhir-akhir ini
semakin meningkat pula, jagung biasanya digunakan sebagai pakan dan bahan
industri. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan produksi benih
jagung nasional dan tampaknya telah membawa hasil yang nyata.
Budidaya Jagung Hibrida dan bersari
bebas memiliki beberapa tahap antara lain sebagai berikut:
3.1.1
Iklim
Faktor-faktor iklim yang terpenting adalah jumlah dan
pembagian dari sinar matahari dan curah hujan, temperatur, kelembaban dan
angin. Tempat penanaman jagung harus mendapatkan sinar matahari cukup dan
jangan terlindung oleh pohon-Pohonan atau bangunan. Bila tidak terdapat
penyinaran dari matahari, hasilnya akan berkurang. Temperatur optimum untuk
pertumbuhan jagung adalah antara 23 – 27 C.
3.1.2
Kondisi Lahan
Jagung di Indonesia
kebanyakan ditanam di dataran rendah
baik di tanah tegalan, sawah tadah hujan dan beriirigasi serta sebagian kecil
di tanam di dataran tinggi. Tanaman jagung umumnya ditanam pada akhir musim
hujan (oktober-nopember) dan menjelang musim kemarau.
Tanah yang baik untuk jagung adalah
gembur dan subur, karena tanaman ini memerlukan aerasi dan drainase yang baik.
Jagung tumbuh baik pada berbagai jenis tanah asalkan mendapatkan pengelolaan
yang baik. Tanah dengan tekstur lempung berdebu adalah yang terbaik untuk
pertumbuhan. Tanah-tanah dengan tekstur berat masih dapat di tanami jagung
dengan hasil yang baik bila pengolahan tanah di kerjakan secara optimal,
sehingga aerase dan ketersediaan air dalam tanah berada dalam kondisi baik.
Kemasaman tanah biasanya erat sekali
hubungannya dengan ketersediaan unsur-unsur hara tanaman. Kemasaman tanah (pH)
yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung berkisar antara 5,6 – 7,5 (Aldrich,
dkk. 1975)
3.1.3
Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah
merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menyediakan tempat tumbuh bagi tanaman
jagung sehingga perakaran tanaman dapat berkembang dengan baik. Dengan demikian
absorbsi hara oleh tanaman berada dalam kondisi optimal. Pengolahan tanah
diusahakan agar kondisi air tanah dapat terpelihara dengan baik.
Pada tanah-tanah bertekstur berat,
pengolahan tanah sebaiknya dilakukan secara intensif untuk mendapatkan drainase
dan aerasi tanah yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman jagung. Untuk
menghemat tenaga dan waktu serta memanfaatkan air tersedia dalam tanah,
pengolahan tanah secara minimum dapat dilakukan terutama pada tanah bertekstur
ringan. Pengolahan tanah secara minimum yaitu dengan merotor atau mencangkul
tanah pada barisan yang akan ditanami selebar 40 cm, pda tanah bertekstur
ringan tidak memberikan perbedaan hasil yang berarti bila dibandingkan dengan
pengolahan tanah secara sempurna/seluruh permukaan tanah.
Setelah pertanaman jagung tumbuh
kira-kira 4-5 minggu lalu dilakukan pembumbunan. Pembumbunan, disamping untuk
memperbaiki drainase dan aerasi tanah, juga dimaksudkan sekaligus untuk
mengurangi gulma yang ada pertanaman jagung. Pembumbunan ini nyata dapat
meningkatkan hasil biji jagung. Pembumbunan yang dilakukan pada pertanaman
jagung semula tanahnya hanya diolah pada bagian yang akan ditanami saja dan
pembumbumbunan juga dapat meningkatkan hasil produksi.
3.1.4
Pertumbuhan Tanaman Jagung
Kira-kira 4-6 hari
jagung di tanam, tanaman akan muncul di atas permukaan tanah bila kondisi tanah
cukup lembab. Laju pertumbuhan tinggi tanaman pada fase awal relatif lambat,
tetapi tanaman akan tumbuh dengan cepat setelah tanaman berumur 4 minggu.
Sistem perakaran jagung berkembang dengan cepat pada saat tanaman berdaun 5-7
helai. Selanjutnya setelah berumur 7 – 9 minggu, terjadi pembungaan lalu rambut
tongkol muncul dan selanjutnya penyerbukan mulai langsung. Umumnya tongkol
jagung tumbuh dari ruas 6 – 8 dibawah bunga jantan. Pada fase pembungaan ini
biasanya akar cabang (brace root) tumbuh darii ruas bagian bawah dekat tanah.
Akar cabang ini selain berguna untuk menunjang atau menompang tanaman agar
tidak mudah rebah juga dapat mengabsorbsi hara tanaman (Aldrich, dkk. 1975).
Setelah penyerbukan
berlangsung, biji mulai berbentuk dan perkembang. Pada fase pertumbuhan ini
akumulasi bahan kering meningkat hingga menjelang panen dan peningkatan ini
hanya untuk pengisian biji. Kemudian tongkol jagung dapat di panen bila kelobot
terlihat berwarna kuning dan telah kering. Bila klobot dikupas terdapat biji
jagung yang mengkilat dan jika ditusuk dengan kuku ibu jari tidak nampak
bekasnya. Pada saat panen ini kadar air biji berkisar antara 30 – 35 %. Sebagai
indikator lain untuk mengetahui masaknnya biji adalah adanya lapisan hitam yang
terdapat pada ujung biji jagung yang melekat pada tongkol (janggel). Adanya
lapisan hitam tersebut menunjukkan bahwa translokasi hasil fotosintesis kedalam
biji jagung telah terhenti. Pengamatan lapisan hitam ini agak sulit ditemui di
lapang. Akumulasi bahan kering selama pertumbuhan tanaman jagung (hanway,
1966).
3.1.5
Kebutuhan Hara N, P dan K pada Produksi Benih Jagung
Untuk mendapatkan
pertumbuhan tanaman yang baik yang memberikan hasil tinggi, unsur-unsur hara
yang tersedia dan dapat dimanfaatkan oleh tanaman harus dalam keadaan cukup.
Unsur-unsur hara yang penting bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah N, P dan K
3.1.5.1
Nitrogen
Absorbsi N oleh tanaman
jagung berlangsung selama pertumbuhannya. Pada awal pertumbuhan, akumulasi N
dalam tanaman relatif lambat dan setelah tanaman umur 4 minggu akumulasi N
sangat cepat. Pada saat pembungaan (bunga jantan muncul) tanaman jagung telah
mengabsorbsi N sebanyak 50 % dari seluruh kebutuhannya. Oleh karena itu untuk
memperoleh hasil yang baik, unsur hara N dalam tanah harus cukup tersedia pada
fase pertumbuhan tersebut. Tanaman jagung yang kekurangan unsur N akan
memperlihatkan pertumbuhan yang kerdil dan daun tanaman berwarna hijau
kekuning-kuningan yang berbentuk huruf V darii ujung daun menuju tulang daun
dan dimulai dari daun bagian bawah terlebih dahulu. Selain itu, tongkol jagung
terbentuk menjadi kecil dan kandungan protein dalam biji rendah.
3.1.5.2
Fosfor (P)
Tanaman jagung
mengabsorbsi P dalam jumlah relatif sedikit dari pada absorbsi hara N dan K.
Pola akumulasi P tanaman jagung hampir sama dengan akumulasi hara N. Pada fase
awal, pertumbuhan akumulasi P relatif lebih lambat, namun setelah umur 4 minggu
meningkat dengan cepat.
Pada saat keluar bunga jantan, akumulasi
P pada tanaman jagung mencapai 35 % dari seluruh kebutuhannya. Selanjutnya
akumulasi meningkat hingga menjelang tanaman dapat di panen.
Gejala kekuranagan P biasanya tampak
pada fase awal pertumbuhan tanaman yang kekuranagn P, daunnya berwarna
keunguan. Kekurangan P juga menyebabkan perakaran tanaman menjadi dangkal dan
sempit penyebarannya serta batang menjadi lemah. Selain itu, pembentukan
tongkol jagung menjadi tidak sempurna dengan ukuran kecil dan barisan biji
tidak beraturan dengan biji yang kurang berisi (Berger, 1977).
3.1.5.3
Kalium (K)
Kalium dibutuhkan
tanaman jagung dalam jumlah paling banyak dibandingkan dengan har N dan P pada
fase pembungaan, akumulasi hara K telah mencapai 60 – 75 % dari seluruh
kebutuhannya.
Kekuranagan hara K pada tanaman jagung sering terlihat gejalanya
pada fase sebelum pembungaan. Tanaman jagung yang kekuranagan K memperlihatkan
pinggiran dan ujung daun menjadi berwarna kuning hingga menjadi kering. Gejala
kekurangan K ini pertama terlihat pada daun bagianbawah. Dalam keadaan yang
lebih parah, daun tersebut akan kering dan mati. Apabila batang tanaman
disayat, akan terlihat warna kecoklatan yang terdapat pada ruas (bukunya).
Kekuranagan K juga berpengaruh terhadap pembentukan tongkol. Ujung tongkol
bagian atas tidak penuh berisi oleh biji serta biji jagung tidak melekat secara
kuat pada tongkolnya (Aldrich, dkk. 1975).
3.1.6
Pemupukan
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa varietas jagung berumur dalam, lebih tanggap terhadap
pemupukan. Dengan demikian untuk mendapatkan hasil jagung yang baik bagi
varietas berumur dalam diperlukan pupuk yang relatif lebih banyak. Waktu
pemberian pupuk dan takaran yang tepat akan memberikan hasil yang tinggi.
3.1.6.1
Waktu Pemberian Pupuk
Pemberian pupuk yang
tepat selama pertumbuhan tanaman jagung dapat meningkatkan efisiensi penggunaan
pupuk. Sifat pupuk N umumnya mudah larut di dalam air sehingga mudah hilang
baik melalui pencucian maupun penguapan. Untuk mengurangi kehilangan N,
pemberian pupuk N sebaiknya diberikan secara bertahap. Dikarenakan jikalau
pupuk N di berikan secara langsung contoh urea, maka akan menyebabkan
pengurangan dalam produksi.dikarenakan pupuk N mudah tercuci dan bersifat mudah
menguap higrokopis.
Cara pemberian pemupukan N yang baik adalah dengan jalan
meletakkan pupuk di permukaan tanah dan segera dibumbun atau di tugal di
samping tanaman dan di tutup kembali dengan tanah
3.1.6.2
Dosis Pemupukan
Takaran per hektar pupuk kandang 2 ton, urea 300 kg, SP36
150 kg, KCl 75 kg. Pupuk urea diberikan 2 kali, masing-masing 1/2 bagian pada
saat tanaman berumur 18 hari dan 35 hari. Sedangkan pupuk kandang, SP36 dan KCl
diberikan seluruhnya pada saat tanam.
3.1.7
Roguing
Roguing dilakukan dengan cara membuang tanaman yang
diragukan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penyerbukan tanaman tetua
betina oleh tanaman yang tidak dikehendaki, damn pembentukan benih bukan dari
tanaman tetua yang diinginkan
Roguing I
dilaksanakan pada umur
2 minggu dengan
membuang tanaman yang menyimpang dari yang dikehendaki, demikian pula
tanaman kultur. Untuk
mempertahankan kualitas genetis,
dilakukan roguing terhadap
tanaman dari bunga yang
menyimpang dari yang
seharusnya dengan cara
memotong bunga
betina dan jantan serta
pemotomgan dan pencabutan
tanaman yang menyimpang
ataupun tanaman yang kurang
sehat/sempurna. Pelaksanaan roguing mengundang ketua dan anggota kelompok
tani setempat serta
kelompok tani di
sekitarnya. Kemudian diadakan
diskusi di lapangan antara pemulia tanaman dan beberapa
anggota kelompok tani. Dengan demikian diharapkan kelompok tani dapat memahami
dan mandiri dalam penangkaran benih.
3.1.8
Panen dan Pasca Panen
Ciri tanaman
jagung sudah waktunya dipanen adalah kelobotnya sudah berwarna putih kecoklatan
dan tidak meninggalkan bekas apabila bijnya ditekan menggunakan kuku.
3.1.8.1
Hubungan
prapanen dengan mutu benih
Lingkungan tumbuh untuk
produksi benih hendaknya mendapatkan perhatian serius. Mutu fisiologis
merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan dimana benih
dihasilkan. Kekurangan hara mineral dan adanya zat-zat beracun pada lahan dapat
menghambat pencapaian mutu fisiologi yang tinggi.
Percobaan pain(1981).
Pada benih jagung menunjukkan bahwa vigor benih jagung meningkat sejalan dengan
meningkatnya takaran N (nitrogen yang digunakan, pemupukan N dalam percobaan
itu meningkatkan kandungan protein kasar dalam biji sehingga berat jenis benih
manigkat. Peningkatan berat jenis benih tersebut juga menaikkan mutu benih yang
diukur berdasarkan daya berkecambah dan kekuatan timbuhnya. Benih dari sumber
yang sama apabila ditanam pada lahan dengan kesuburan yang berbeda akan
menghasilkan mutu fisiologis yang berbeda, oleh karena itu analisis tanah perlu
dilakukan sebelum produksi benih, komposisi kimia dan fisik suatu lahan secara
fisiologis turut menentkan mutu awal benih.
Percobaan saenong
(1982), menunjukkan bahwa tanaman induk yang vigor menghasilkan benih dengan
mutu yang lebih tinggi dibanding dengan tanaman induk yang kurang vigor, pada
saat benih baru dipanen, perbedaan itu belum nampak, tetapi setelah di simpan
selama 9 bulan dalam kondisi terbuka (suhu kamar, 28o – 32o C, dan kelembaban
nisbi 80 – 96 %), perbedaaan daya kecambah benih mulai kelihatan. Dilain pihak,
bila kondisi simpannya menguntungkan, perbedaan vigor tersebut tidak tampak
walaupun benih telah disimpan selama 9 bulan
3.1.8.2
Saat panen yang tepat
Untuk memperoleh mutu
fisiologi yang tinggi, panen sebaiknya dilakukan teapat waktu, yaitu pada saat
benih mencapai masak fisiologis. Mengingat bahwa pada saat mencapai tingkat
masak fisiologis kadar air benih jagung masih cukup tinggi (35-40%), panen
dapat ditunda sampai benih mencapai
masak panen asalkan keadaan lapang cukup menguntungkan (tidak ada hujan).
Penundaan waktu panen itu dimaksudkan untuk menurunkan kadar air benih sehingga
biaya pengeringan dan kerusakan mekanis yang terjadi saat panen dapat ditekan.
Pemanenan yang terlalu dini atau terlalu masak akan menurunkan mutu fisiologi
benih yang dihasilkan. Musim tanampun dapat mempengaruhi mutu benih, terutama
apabila hujan terjadi pada saat periode pemasakan.
Mutu fisiologi tertinggi dicapai pada
saat benih mencapai masak fisiologis. Pada benih jagung, tingkat masak telah
dilaporkan berpengaruh terhadap daya berkecambah dan vigor benih.
3.1.8.2
Cara
Panen
Peralatan panen juga
mempengaruhi mutu beni yang dihasilkan. Cara perontokan pun menentukan vigor
awalnya. Jagung di indonesia pada umumnya dipanen secara manual sehingga
pengaruhnya terhadap mutu benih tidak perlu dirisaukan. Tetapi pada pengusaha
benih yang menggunakan mesin pemanen (combine) perlu diperhitungkan kadar air
yang tepat agar kerusakan mekanis dapat diperkecil seminimal mungkin.
3.1.8.3
Aerasi
dan cara pengeringan
Setelah panen dan
perontokan hasil, aerasi dan pengeringan harus segera dilakukan. Aerasi dapat
menurunkan panas benih, baik dari lapang atau dari hasil respirasi. Aerasi juga
dapat menurunkan kadar air benih. Kadar air benih yang tinggi dalam benih
mendorong respirasi dan menstimulasi pertumbuhan mikroorganisme (terutama
cendawan) yang mendorong kerusakan benih. Selang waktu antara panen dan
pengeringan sangat berpengaruh terhadap mutu benih, terutama daya simpannya.
Sebelum benih dikeringkan, biasanya petani membiarkan dulu beberapa waktu yang
dikenal dengan istilah penyimpanan sementara (bulk storage), apalagi kalau pengeringan hanya mengandalkan sinar
matahari. Semakin tinggi kadar air benih saat panen, semakin singkat selang
waktu penyimpanan sementara yang dapat ditoleransikan, demikian pula, semakin
tinggi suhu ruang simpan sementara, semakin singkat selang waktu yang dapat
ditoleransikan.
Dalam pengeringan
benih, faktor suhu sangat perlu diperhatikan. Menurut welch dan Selouche
(1967), suhu perlu disesuaikan dengan
kadar air benih yang sedang dikeringkan
sebagai berikut:
Apabila kadar air benih
di atas 18 %, maka suhu maksimum adalah 32oC. Setelah kadar air turun menjadi
10-18 %, suhu baru dapat dinaikkan hingga 43oC. Dengan demikian. Mengatur suhu
alat pengering harus berfungsi dengan baik.
Apabila benih dengan kadar air yang lebih tinggi langsung dikeringkan
dengan suhu sekitar 40oC, enzimnya akan terkoagulasi (menggumpal), menghasilkan
viabilitas benih. Pengeringan benih yang disertai dengan aerasi, lebih baik dar
pada yang tanpa aerasi.
Ketebalan hamparan
benih di dalam alat pengering tipe bin dryer perlu disesuaikan dengan kadar air
awalnya. Semakin tinggi kadar air awal benih jagung, semakin tipis ketebalan
benih yang perlu diahmparkan dan semakin banyak udara panas yang dialirkan.
3.1.8.4
Pengolahan,
pemilihan, dan pengemasan
Pengolahan benih jagung
mencakup pemipilan, pembersihan dari kotoran-kotoran fisik, pemilahan
berdasarkan ukuran besar benih (size grading), pemilahan berdasarkan
berdasarkan berat (density drading), perlakuan dengan bahan kimia tertentu
sebelum pengemasan (misalnya pemberian ridomil pada benih) serta cara, jenis
dan ukuran kemasan, perlu mendapat perhatian.
Kadar benih jagung yang akan dipipil
dengan alat mekanik hedaknya diperhatikan. Kadar air yang terlalu tinggi atau
terlalu rendah dapat mengakibatkan kerusakan mekanis pada kulit biji, sehingga
benih kurang tahan simpan. Kerusakan mekanis biasanya lebih kecil apabila benih
dipipil pada kadar air 14 – 18 %.
Benih jagung juga dapat
rusak apabila diterjunkan terlalu tinggi pada saat dimasukkan kedalam wadah
pengeringan, pengolahan atau wadah penyimpanan. Pada industri benih, pengisian
benih kedalam alat pengering (driyer), alat pengolahan (air screen cleaner),
atau ketempat penyimpanan (bin storer) biasanay dilakukan dengan evelator. Alat
ini dapat berupa evelator vertikal (conveyer) dan elevator horizontal.
Bunch dalam moore
(1972), meneliti pengaruh kadar air benih terhadap kerusakan benih yang diolah
dengan conveyer. Ternyata kerusakan mekanis berkurang apabila kadar air awal
benih pada saat operasional tersebut 14-18%. Apabila kadar air benih lebih
kecil atau lebih besar dari pada itu kerusakan yang terjadi akan besar.
Kerusakan mekanis tampak pada akar primer kecambah.
Kalau benih akan ditaman segera setelah
pengolahan, maka hal tersebut tidak perlu dipersoalkan; benih jagung memiliki
akar lateral cukup banyak, dan tanpa akar primer pun benih jagung masih dapat
dikatakan sebagai kecambah normal. Kalau benih tidak segera ditanam, tetapi
disimpan terlebih dahulu, maka kerusakan mekanis mempercepat kemunduran benih:
mikroorganisme dan hama gudang lebih mudah menyerang, serta oksigen lebih mudah
masuk kedalam biji dan menyebabkan teroksidasinya senyawa-senyawa esensial yang
terdapat di lapisan aleuron benih.
Kerusakan mekanis yang
telah banyak dilaporkan berpengaruh terhadap vigor benih.
Pemilihan benih
berdasarkan ukuran dilakuka segera setelah benih kering. Pemilihan saringan
(screen) yang tepat diperlukan karena setiap varietas memiliki ciri ukuran
butiran tersendiri. Benih yang terletak diujung atau di pangkal tongkol,
biasanya lebih kecil daripada yang terletak di bagian tengah tongkol. Pemilihan
ukuran tersebut di lakukan dengan air screen cleaner.
Pemilihan ukuran dapat
diikuti oleh pemilihan bobot (density grading) agar benih yang diperoleh
benar-benar merata, baik dalam ukuran maupun bbobotnya sehingga diperoleh
pertanaman yang seragam. Pemilahan bobot
dilakukan dengan Gravity tabel atau gravity separator
Telah banyak hasil
penelitian yang menunjukkan bahwa ukuran dan bobot benih berpengaruh terhadap
vigor benih beberapa tanaman pangan (baskin, 1970). Namun demikian hasil
penelitian Saenong (1982) di muara, bogor, menunjukkan bahwa benih yang berasal
dari bagian yang berbeda (ujung, tengah, pangkal) dari tongkol, tidak
memberikan hasil yang berbeda sekalipun ada perbedaan pada tinggi tanaman.
Benih jagung yang berasal dari bagian pangkal dan ujung tongkol menghasilkan
tanaman yang lebih tinggi. Tetapi dengan lingkar batang yang lebih kecil, dari
pada beni yang berasal dari bagian tengah tongkol. Benih yang berasal dari
bagian tengah tongkol tumbuh tebih kekar.
Perlakuan bahan kimia
juga diperlukan oleh benih yang akan ditanam di daerah-daerah yang sering
terancam penyakit bulai. Dalam perlakuan benih (seed treatment) keterampilan
diperlukan agar konsentrasi bahan kimia tidak meningkatkan kadar air benih yang
akan disimpan
3.2
Macam-macam
Gulma Pada Tanaman Jagung
Sarana tumbuh adalah semua faktor
yang menentukan atau mendukung pertumbuhan, meliputi unsur hara, air, sinar
matahari, ruang hidup, dan faktor lainnya. Dalam suatu lahan, biasanya terdapat
persaingan dalam memperoleh sarana tumbuh tersebut antara tanaman pokok dengan
gulma.
Persaingan (competition) diartikan sebagai perjuangan dua organism atau lebih untuk memperebutkan obyek yang sama, baik gulma maupun tanaman mempunyai keperluan dasar yang sama untuk pertumbuhan dan perkembangan normal yaitu unsure hara, air, cahaya, bahan ruang tumbuh, dan CO2 (Yernelis Sukman dan Yakup, 1995).
Persaingan (competition) diartikan sebagai perjuangan dua organism atau lebih untuk memperebutkan obyek yang sama, baik gulma maupun tanaman mempunyai keperluan dasar yang sama untuk pertumbuhan dan perkembangan normal yaitu unsure hara, air, cahaya, bahan ruang tumbuh, dan CO2 (Yernelis Sukman dan Yakup, 1995).
Jagung yang ditanam secara
monokultur dan dengan masukan rendah tidak memberikan hasil akibat persaingan
intensif dengan gulma (Clay and Aquilar, 1998).Pada stadia lanjut pertumbuhan
jagung, gulma dapat mengakibatkan kerugian jika terjadi cekaman air dan hara,
atau gulma tumbuh pesat dan menaungi tanaman (Lafitte, 1994).
Di banyak daerah pertanaman jagung,
air merupakan faktor pembatas. Kekeringan yang terjadi pada stadia awal
pertumbuhan vegetatif dapat mengakibatkan kematian tanaman. Kehadiran gulma
pada stadia ini memperburuk kondisi cekaman air selama periode kritis, dua
minggu sebelum dan sesudah pembungaan. Pada saat itu tanaman rentan terhadap
persaingan dengan gulma (Violic, 2000).
Beberapa jenis gulma tumbuh lebih
cepat dan lebih tinggi selama stadia pertumbuhan awal jagung, sehingga tanaman
jagung kekurangan cahaya untuk fotosintesis. Gulma yang melilit dan memanjat
tanaman jagung dapat menaungi dan menghalangi cahaya pada permukaan daun,
sehingga proses fotosintesis terhambat yang pada akhirnya menurunkan hasil. Di
banyak daerah pertanaman jagung, air merupakan faktor pembatas. Kekeringan yang
terjadi pada stadia awal pertumbuhan vegetatif dapat mengakibatkan kematian
tanaman. Kehadiran gulma pada stadia ini memperburuk kondisi cekaman air selama
periode kritis, dua minggu sebelum dan sesudah pembungaan. Pada saat itu
tanaman rentan terhadap persaingan dengan gulma.
Berikut beberapa gulma penting pada tanaman jagung :
3.2.1 Golongan
rumput :
Gulma golongan rumput termasuk dalam
familia Gramineae/Poaceae. Deangan cirri, batang bulat atau agak pipih,
kebanyakan berongga.Daun-daun soliter pada buku-buku, tersusun dalam dua deret,
umumnya bertulang daun sejajar, terdiri atas dua bagian yaitu pelepah daun dan
helaian daun. Daun biasanya berbentuk garis (linier), tepi daun rata.
Lidah-lidah daun sering kelihatan jelas pada batas antara pelepah daun dan
helaian daun, contohnya:
a)
Digitaria sanguinalis (rumput belalang)
b)
Cynodon dactylon(rumput kakawatan/suket grinting)
c)
Echinochloa colona (jajagoan leutik)
d)
Eleusine indica (kelangan)
e)
Imperata cylindrica (alang-alang)
3.2.2 Golongan Teki:
Gulma golongan teki termasuk dalam
familia Cyperaceae.Batang umumnya berbentuk segitiga, kadang-kadang juga bulat
dan biasanya tidak berongga.Daun tersusun dalam tiga deretan, tidak memiliki
lidah-lidah daun (ligula).Ibu tangkai karangan bunga tidak berbuku-buku. Bunga
sering dalam bulir (spica) atau anak bulir, biasanya dilindungi oleh suatu daun
pelindung. Buahnya tidak membuka, contohnya:
a)
Cyperus rotundus (teki)
b)
Cyperus byllinga (teki)
Golongan berdaun lebar:
Gulma
berdaun lebar umumnya termasuk Dicotyledoneae dan Pteridophyta. Daun lebar
dengan tulang daun berbentuk jala, contohnya:
a)
Amaranthus spinosus (bayam duri)
b)
Ageratum conyzoides (babandotan)
c)
Spomoea sp
d)
Alternanthera phyloxiroides (kremah)
e)
Synedrella madiflor`
f)
Portulaca oleracea (krokot)
3.2.3
Kerugian Yang di Timbul Oleh Gulma
Kerugian utama yang ditimbulkan oleh
gulma antara lain menurunkan kuantitas hasil, mengurangi kualitas hasil,
mempersulit pengolahan tanah dan mengganggu kelancaran pengairan. Periode
kritis persaingan tanaman dan gulma terjadi sejak tanam sampai seperempat atau
sepertiga dari daur hidup tanaman tersebut. Persaingan gulma pada waktu itu
menyebabkan turunnya hasil secara nyata. Gulma pada jagung dapat menurunkan
hasil hingga 20-60%.
Persaingan Tanaman dengan Gulma Tingkat
persaingan antara tanaman dan gulma bergantung pada empat faktor, yaitu stadia
pertumbuhan tanaman, kepadatan gulma, tingkat cekaman air dan hara, serta
spesies gulma. Jika dibiarkan, gulma berdaun lebar dan rumputan dapat secara
nyata menekan pertumbuhan dan perkembangan jagung.Gulma menyaingi tanaman
terutama dalam memperoleh air, hara, dan cahaya. Tanaman jagung sangat peka
terhadap tiga faktor ini selama periode kritis antara stadia V3 dan V8, yaitu
stadia pertumbuhan jagung di mana daun ke-3 dan ke-8 telah terbentuk. Sebelum
stadia V3, gulma hanya meng- ganggu tanaman jagung jika gulma tersebut lebih
besar dari tanaman jagung, atau pada saat tanaman mengalami cekaman kekeringan.
Antara stadia V3 dan V8, tanaman jagung membutuhkan periode yang tidak tertekan
oleh gulma. Setelah V8 hingga matang, tanaman telah cukup besar sehingga
menaungi dan menekan pertumbuhan gulma. Pada stadia lanjut pertumbuhan jagung,
gulma dapat mengakibatkan kerugian jika terjadi cekaman air dan hara, atau
gulma tumbuh pesat dan menaungi tanaman (Lafitte 1994).
Beberapa jenis gulma tumbuh lebih cepat dan lebih tinggi selama stadia pertumbuhan awal jagung, sehingga tanaman jagung kekurangan cahaya untuk fotosintesis. Gulma yang melilit dan memanjat tanaman jagung dapat menaungi dan menghalangi cahaya pada permukaan daun, sehingga proses fotosintesis terhambat yang pada akhirnya menurunkan hasil. Di banyak daerah pertanaman jagung, air merupakan faktor pembatas. Kekeringan yang terjadi pada stadia awal pertumbuhan vegetatif dapat mengakibatkan kematian tanaman. Kehadiran gulma pada stadia ini memperburuk kondisi cekaman air selama periode kritis, dua minggu sebelum dan sesudah pembungaan. Pada saat itu tanaman rentan terhadap
persaingan dengan gulma (Violic 2000). Kemampuan tanaman bersaing dengan gulma tergantung pada spesies gulma, kepadatan gulma, saat dan lama persaingan, cara budidaya dan varietas yang ditanam, serta tingkat kesuburan tanah. Perbedaan spesies, akan menentukan kemampuan bersaing karena perbedaan system fotosintesis, kondisi perakaran dan keadaan morfologinya. Gulma yang muncul atau berkecambah lebih dulu atau bersamaan dengan tanaman yang dikelola, berakibat besar terhadap pertumbuhan dan hasil panen tanaman. Persaingan gulma pada awall pertumbuhan akan mengurangi kuantitas hasil, sedangkan persaingan dan gangguan gulma menjelang panen berpengaruh besar terhadap kualitas hasil.
Beberapa jenis gulma tumbuh lebih cepat dan lebih tinggi selama stadia pertumbuhan awal jagung, sehingga tanaman jagung kekurangan cahaya untuk fotosintesis. Gulma yang melilit dan memanjat tanaman jagung dapat menaungi dan menghalangi cahaya pada permukaan daun, sehingga proses fotosintesis terhambat yang pada akhirnya menurunkan hasil. Di banyak daerah pertanaman jagung, air merupakan faktor pembatas. Kekeringan yang terjadi pada stadia awal pertumbuhan vegetatif dapat mengakibatkan kematian tanaman. Kehadiran gulma pada stadia ini memperburuk kondisi cekaman air selama periode kritis, dua minggu sebelum dan sesudah pembungaan. Pada saat itu tanaman rentan terhadap
persaingan dengan gulma (Violic 2000). Kemampuan tanaman bersaing dengan gulma tergantung pada spesies gulma, kepadatan gulma, saat dan lama persaingan, cara budidaya dan varietas yang ditanam, serta tingkat kesuburan tanah. Perbedaan spesies, akan menentukan kemampuan bersaing karena perbedaan system fotosintesis, kondisi perakaran dan keadaan morfologinya. Gulma yang muncul atau berkecambah lebih dulu atau bersamaan dengan tanaman yang dikelola, berakibat besar terhadap pertumbuhan dan hasil panen tanaman. Persaingan gulma pada awall pertumbuhan akan mengurangi kuantitas hasil, sedangkan persaingan dan gangguan gulma menjelang panen berpengaruh besar terhadap kualitas hasil.
Persaingannya berupa :
3.2.3.1 Persaingan dalam memperoleh air
Air di serap dari dalam tanah
kemudian sebagian besar diuapkan (transpirasi), hanya sekitar 1% saja yang
dipakai untuk proses fotosintesis. Untuk setiap kilogram bahan organik, gulma
membutuhkan 330-1900 liter air. Kebutuhan yang besar tersebut hampir dua kali
kebutuhan tanaman.
3.2.3.2 Persaingan dalam memperoleh unsur hara
Gulma menyerap lebih banyak unsur
hara dari pada tanaman. Pada bobot kering yang sama gulma mengandung kadar
nitrogen dua kali lebih banyak dari jagung.
3.2.3.3 Persaingan dalam memperoleh cahaya
Dalam keaadaan air dan hara yang
cukup untuk pertumbuhan tanaman, maka faktor pembatas berikutnya adalah cahaya
matahari. Bila musim hujan, maka berbagai tanaman akan berebut untuk memperoleh
cahaya matahari.
3.2.3.4 Pengeluaran senyawa beracun.
Tumbuhan juga dapat bersaing antara
sesamanya dengan cara interaksi biokimia, yaitu salah satunya dengan
mengeluarkan senyawa beracun, yang akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan
tanaman lain. Interaksi biokimia antara gulma dan tanaman ini dapat menyebabkan
gangguan perkecambahan biji, kecambah jadi abnormal. Persaingan yang timbul
akibat hal ini adalah dikeluarkannya zat racun dari suatu tumbuhan yang disebut
allelopathy.
3.2.4 Pengendalian
Gulma
Keberhasilan pengendalian gulma
merupakan salah satu faktor penentu tercapainya tingkat hasil jagung yang
tinggi. Gulma dapat dikendalikan melalui berbagai aturan dan karantina; secara
biologi dengan menggunakan organisme hidup; secara fisik dengan membakar dan
menggenangi, melalui budidaya dengan pergiliran tanaman, peningkatan daya saing
dan penggunaan mulsa; secara mekanis dengan mencabut, membabat, menginjak,
menyiang dengan tangan, dan mengolah tanah dengan alat mekanis bermesin dan
nonmesin, secara kimiawi menggunakan herbisida. Gulma pada pertanaman jagung
umumnya dikendalikan dengan cara mekanis dan kimiawi. Pengendalian gulma secara
kimiawi berpotensi merusak lingkungan sehingga perlu dibatasi melalui pemaduan
dengan cara pengendalian lainnya.
3.3
Hama
dan Penyakit Tanaman Jagung
Hama dan penyakit
merupakan kendala utama dalam produksi jagung. Kerusakan akibat hama penyakit pada
jagung pernah dilaporkan mencapai 26,5% (Sudjono dalam Subandi et
al. 1988). Untuk mengatasi kehilangan tersebut perlu adanya usaha untuk
menekan perkembangan hama penyakit tersebut. Sekitar 70 jenis serangga hama
(Ortega, 1987) dan 100 macam penyakit (Shurtleff, 1980) telah dilaporkan
menyerang tanaman jagung, namun hanya beberapa yang secara ekonomi sering
menimbulkan kerusakan berat (Anonymous, 1995; Shurtleff, 1980; Sumartini dan
Hardaningsih, 1995). Beberapa jenis hama yang dilaporkan sering menimbulkan
kerusakan ekonomis yaitu lalat bibit (Atherigona sp.), ulat grayak (Spodoptera
sp.), kumbang landak (Dactylispa sp.), kutu daun/aphis (Rhopalosiphum
maydis), penggerek batang (Ostrinia furnacalis), penggerek
tongkol (Helicoverpa armigera), dan kumbang bubuk (Sitophilus
sp.) (Anonymous, 1995). Sedangkan jenis penyakit utama yang sering menimbulkan
kerusakan pada jagung yaitu penyakit bulai (Peronosclerospora sp.),
penyakit karat (Puccinia sp.), bercak/hawar daun (Drechslera/Helminthosporium
sp.), hawar upih (Rhizoctonia sp.), busuk tongkol/batang (Fusarium
sp., Diplodia sp.), busuk biji (Aspergillus spp., Fusarium
sp., dll.), dan virus mosaik (virus mosaik tebu, virus kerdil jagung)
(Shurtleff, 1980). Untuk dapat mengendalikan hama penyakit jagung tersebut
perlu adanya komponen- komponen pengendalian yang efektif terhadap
masing-masing hama penyakit. Komponen-komponen pengendalian yang banyak
direkomendasikan dalam pengendalian hama penyakit jagung pada garis besarnya
meliputi : varietas tahan, cara kultur praktis, musuh alami, dan pestisida.
Penggunaan pestisida yang telah berkembang pesat ternyata banyak menimbulkan
dampak negatif terhadap lingkungan seperti timbulnya spesies hama resisten,
binasanya mahluk-mahluk berguna bukan sasaran, terjadinya pencemaran
lingkungan, dan keracunan pada manusia (Oka, 1995). Mengingat banyaknya faktor
luar yang mempengaruhi perkembangan hama maupun patogen serta tanaman jagung
itu sendiri, perlu perakitan komponen-komponen pengendalian tersebut dalam
suatu kegiatan yang dikenal sebagai pengendalian hama penyakit terpadu (PHT).
Dalam pengendalian
terpadu harus selalu memperhatikan etika lingkungan yang ekosentrik, sehingga
penggunaan pestisida berbahaya secara bijaksana diusahakan sebagai alternatif
terakhir, apabila tidak ada cara lain yang bisa diterapkan (Oka, 1995; Flint
dan Bosch, 1990).
3.3.1
Hama
3.3.1.1
Penggerek Batang
Penggerek batang, Ostrinia
furnacalis Guenee, merupakan salah satu hama utama pada tanaman jagung
sehingga keberadaannya perlu diwaspadai. Kehilangan hasil akibat hama tersebut
mencapai 20−80%. Besarnya kehilangan hasil dipengaruhi oleh padat populasi
larva O. furnacalis serta umur tanaman saat terserang. Telur O.
Furnacalis diletakkan secara berkelompok pada bagian bawah daun, bentuknya
menyerupai sisik ikan dengan ukuran yang berbeda-beda. Periode telur
berlangsung 3−4 hari. Larva terdiri atas lima instar, setiap instar lamanya 3−7
hari. Stadium pupa berlangsung 7−9 hari. Lama hidup ngengat adalah 2−7 hari
sehingga siklus hidup dari telur hingga ngengat adalah 27−46 hari dengan
rata-rata 37,50 hari.
Ciri-ciri hama penggerek batang:
- Ngengat aktif malam hari, dan menghasilkan beberapa generasi pertahun, umur imago/ngengat dewasa 7-11 hari.
- Telur diletakkan berwarna putih, berkelompok, satu kelompok telur beragam antara 30-50 butir, seekor ngengat betina mampu meletakkan telur 602-817 butir, umur telur 3-4 hari. Ngengat betina lebih menyukai meletakkan telur pada tanaman jagung yang tinggi dan telur di letakkan pada permukaan bagian bawah daun utamanya pada daun ke 5-9.\
- Larva yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah pindah, larva muda makan pada bagian alur bunga jantan, setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari.
- Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna coklat kemerah merahan, umur pupa 6-9 hari.
Serangan :
- Hama menyerang tanaman menjelang berbunga dengan menggerek dalam batang, tanda terjadi serangan yaitu adanya serbuk berwarna putih berserakan di sekitar permukaan daun dan bunga jantan patah.
- Kerusakan yang ditimbulkan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, dan tumpukan tassel yang rusak.
Pengendalian:
- Dengan memanfaatkan musuh alami seperti parasitoid tricogramma spp. Parastoid
- Pengendalian dengan menggunakan insektisida berbahan aktif monokrotofos, triazofos, dan karbofuran efektif untuk menekan serangan penggerek batang jagung
- Penanaman dengan teknik tumpangsari dengan tanaman leguminoseae
Berikut gambar dari hama penggerek batang

3.3.1.2
Penggerek Tongkol Jagung
Ciri-ciri hama :
- Telur diletakkan pada rambut jagung. Rata-rata produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah diletakkan.
- Larva terdiri dari lima sampai tujuh instar. Khususnya pada jagung, masa perkembangan larva pada suhu 24 - 27,2°C adalah 12,8 - 21,3 hari. Larva memiliki sifat kanibalisme. Spesies ini mengalami masa pra pupa selama satu sampai empat hari. Masa pra pupa dan pupa biasanya terjadi dalam tanah dan kedalamannya bergantung pada kekerasan tanah.
- Pupa umumnya terbentuk pada kedalaman 2,5 sampai 17,5 cm. Terkadang pula serangga ini berpupa pada permukaan tumpukan limbah tanaman atau pada kotoran serangga ini yang terdapat pada tanaman. Pada kondisi lingkungan mendukung, fase pupa bervariasi dari enam hari pada suhu 35°C dan sampai 30 hari pada suhu 15°C.
Serangan :
- Imago betina akan meletakkan telur pada rambut jagung dan sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk kedalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan.
- Serangan serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung
Pengendalian :
Hayati :
Musuh alami yang digunakan sebagai pengendali hayati
dan cukup efektif untuk mengendalikan
penggerek tongkol adalah Parasit, Trichogramma spp yang merupakan parasit telur
dan Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit pada larva muda.
Cendwan, Metarhizium anisopliae.menginfeksi larva.
Bakteri, Bacillus thuringensis dan Virus
Helicoverpa armigera Nuclear
Polyhedrosis Virus (HaNPV).
menginfeksi larva.
Kultur Teknis :
Pengelolaan tanah yang baik akan merusak pupa yang
terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi H. armigera berikutnya.
Kimiawi :
Untuk mengendalikan larva H. armigera pada jagung, penyemprotan insektisida Decis dilakukan setelah
terbentuknya rambut jagung
pada tongkol dan
diteruskan (1-2) hari hingga rambut jagung berwarna coklat.
Berikut gambar penggerek tongkol:

3.3.1.3
Ulat Grayak
Ciri-ciri hama :
- Ngengat dengan sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak perakan, sayap belakang berwarna keputihan, aktif pada malam hari.
- Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25 – 500 butir) tertutup bulu seperti beludru.
- Larva mempunyai warna yang bervariasi, yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan dan hidup berkelompok.
- Siklus hidup berkisar antara 30 – 60 hari (lama stadium telur 2 – 4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar : 20 – 46 hari, pupa 8 – 11 hari).
Serangan :
- Ulat menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab).
- Larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak berkelompok. dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja, sedang larva berada di permukaan bawah daun.
- Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar.
- Serangan umumnya terjadi pada musim kemarau.
- Tanaman Inang Hama ini bersifat polifag, selain jagung juga menyerang tomat, kubis, dan tanaman lainnya.
Pengendalian :
- Kultur teknis
1.
Pembakaran tanaman
2.
Pengolahan tanah yang intensif.
- Pengendalian fisik / mekanis
1.
Mengumpulkan
larva atau pupa
dan bagian tanaman
yang terserang kemudian memusnahkannya
2.
Penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat
sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah
pertanaman sejak tanaman berumur 2 minggu.
- Pengendalian hayati
1.
Pemanfaatan
musuh alami seperti
: patogen Sl-NPV (Spodoptera litura
– Nuclear Polyhedrosis Virus),
cendawan Cordisep, Aspergillus flavus,
Beauveria bassina, Nomuarea
rileyi, dan Metarhizium anisopliae, bakteri Bacillus thuringensis, nematoda
Steinernema sp., predator Sycanus
sp., Andrallus spinideus, Selonepnis
geminada, parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis
similis, dan Peribeae sp.
- Pengendalian kimiawi
1.
Beberapa
insektisida yang dianggap
cukup efektif adalah
monokrotofos, diazinon, khlorpirifos, triazofos,
dikhlorovos, sianofenfos, dan karbaril
Berikut gambar dari Ulat grayak

3.3.2 Penyakit
3.3.2.1 Bulai
Gejala. Gejala
penyakit ini terjadi pada permukaan daun jagung berwarna putih sampai
kekuningan diikuti dengan garis-garis klorotik dan ciri lainnya adalah pada
pagi hari di sisi bawah daun jagung terdapat lapisan beledu putih yang terdiri
dari konidiofor dan konidium jamur. Penyakit bulai pada tanaman jagung
menyebabkan gejala sistemik yang meluas keseluruh bagian tanaman dan
menimbulkan gejala lokal (setempat). Gejala sistemik terjadi bila infeksi
cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun yang dibentuk terinfeksi.
Tanaman yang terinfeksi penyakit bulai pada umur masih muda biasanya tidak
membentuk buah, tetapi bila infeksinya pada tanaman yang lebih tua masih
terbentuk buah dan umumnya pertumbuhannya kerdil.
Penyebab. Penyakit
bulai di Indonesia disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis dan
Peronosclerospora philippinensis yang luas sebarannya, sedangkan Peronosclerospora
sorghii hanya ditemukan di dataran tinggi Berastagi Sumatera Utara
dan Batu Malang Jawa Timur.
Cara pengendalian. Menanam varietas tahan: Sukmaraga,
Lagaligo, Srikandi, Lamuru dan Gumarang. Melakukan periode waktu bebas
tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan. Melakukan penanaman
jagung secara serempak. Melakukan eradikasi tanaman yang terinfeksi
bulai. Serta Penggunaan fungisida metalaksil pada benih jagung
(perlakuan benih) dengan dosis 0,7 g bahan aktif per kg benih.
3.3.2.2 Hawar daun
Gejala. Pada awal
infeksi gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin
memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik dan disebut hawar,
warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5_15 Cm, bercak muncul
awal pada daun yang terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat
dapat mengakibatkan tanaman cepat mati atau mengering dan cendawan ini tidak
menginfeksi tongkol atau klobot. Cendawan ini dapat bertahan hidup dalam bentuk
miselium dorman pada daun atau pada sisa sisa tanaman di lapang. Penyebab
penyakit hawar daun adalah : Helminthosporium turcicum
Cara pengendalian. Menanam
varietas tahan Bisma, Pioner2, pioner 14, Semar 2 dan 5. Eradikasi
tanaman yang terinfeksi bercak daun. Penggunaan fungisida dengan bahan
aktif mankozeb dan dithiocarbamate.
3.3.2.3 Karat
Gejala. Bercak-bercak
kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan
daun jagung di bagian atas dan bawah, uredinia menghasilkan uredospora yang
berbentuk bulat atau oval dan berperan penting sebagai sumber inokulum dalam
menginfeksi tanaman jagung yang lain dan sebarannya melalui angin. Penyakit
karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan infeksinya
berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau. Penyebab
penyakit karat adalah Puccinia polysora
Cara pengendalian. Menanam
varietas tahan Lamuru, Sukmaraga, Palakka, Bima 1 dan Semar 10. Eradikasi
tanaman yang terinfeksi karat daun dan gulma. Penggunaan fungisida
dengan bahan aktif benomil.
3.4
Komponen
Mutu, Standart, Dan Penentuan Mutu
Salah
satu sasaran dalam program perbenihan di indonesia adalah penggunaan benih
mutu, artinya mutu benih harus sesuai dengan standart mutu yang telah tercantm
pada labelnya (Sihombing, 1987). Mutu benih ditentukan berdasarkan utu genetik,
mutu fisik, dan mutu fisiologis.
Mutu
genetik menyangkut kontaminasi benih tanaman atau varietas lain. Untuk
meningkatkan mutu genetik diperlukan roguing di lapangan, mutu fisik
dicerminkan tingkat kebersihan benih dari kotoran fisik yang dapat berupa
tangkai-tangkai tanaman, pecahan benih yang ukurannya kurang dari setengah
besaran benih, kerikil, dan lain-lain, sedangkan mutu fisiologi ditentukan oleh
tingkat viabilitas, termasuk daya berkecambah dan vigor benih.
3.5
Sertifikasi
Benih
Sertifikasi Benih adalah suatu proses pemberian sertifikasi
atas cara perbanyakan, produksi dan penyaluran benih sesuai dengan peraturan
yang telah ditetapkan oleh Departemen Pertanian untuk dapat diedarkan.
Sertifikasi Benih dimaksudkan sebagai pelayanan terhadap
produsen/penangkar serta pedagang benih
Tujuan pada kegiatan sertifikasi ini antara lain adalah :
untuk memelihara kemurnian dan mutu dari varietas unggul serta menyediakan
secara kontinyu kepada petani.
3.5.1
Sasaran
Sertifikasi Benih
a)
Mempertahankan
kemurnian keturunan yang dimiliki oleh suatu varietas,
b)
Membantu
para produsen benih dalam memproduksi benih dengan mutu yang baik;
c)
Membantu
para petani dalam mendapatkan benih serta penyediaannya di pasaran.
3.5.2
Tugas
dan Fungsi Sertifikasi
1)
Mengadakan
pemeriksaan lapang;
2)
Mengadakan
pengawasan panen dan pengolahan benih
3)
Mengadakan
pemeriksaan alat panen dan alat pengolahan benih;
4)
Mengadakan
Pengambilan contoh benih untuk diuji di laboratorium;
5)
Menetapkan
lulus atau tidak lulus suatu benih dalam rangka sertifikasi;
6)
Mengadakan
pengawasan pemasangan label dan segel sertifikasi;
7)
Mengadakan
pengumpulan dan penilaian data pelaksanaan sertifikasi untuk penyempurnaan
penerapan system sertifikasi benih;
8)
Melaksanakan
pencatatan dan penyimpanan data yang berhubungan dengan kegiatan sertifikasi.
3.5.3 Landasan Hukum dan Pedoman dalam
Sertifikasi Benih
1. Undang-undang Republik Indonesia No.
12 Tahun 1992, tentang Sistem Budidaya Tanaman;
2. Keputusan Presiden Republik
Indonesia No. 22 Tahun 1971 tentang Pembinaan, Pengawasan Pemasaran dan
Sertifikasi Benih;
3. Surat Keputusan Menteri Pertanian
No. 460/Kpts/Org/XI/1971, jo Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 22 Tahun
1971;
4. Surat Keputusan Direktorat Jenderal
Pertanian dan Tanaman Pangan Nomor SK.I.HK.050.84.68, tentang Prosedur
Sertifkasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, dan SK No. I.HK.50.84.70,
tentang Pedoman Khusus Sertifikasi Benih;
5. Surat Keputusan Menteri Pertanian
Nomor : 803/Kpts/01.210/7/97, tentang Sertifikasi dan Pengawasan Mutu Benih
Bina;
6. Surat Keputusan Menteri Pertanian
Nomor : 1017/Kpts/TP.120/12/98, tentang Izin Produksi Benih Bina, Izin
Pemasukan Benih dan Pengeluaran Benih Bina;
7. Surat Keputusan Dirjen Tanaman
Pangan dan Hortikultura Nomor : I.HK.050.98-57, tentang Pedoman tata Cara dan
Ketentuan Umum Sertifikasi Benih Bina;
8. Surat Keputusan Dirjen Tanaman
Pangan dan Hortikultura Nomor : I.HK.050.98-58, tentang Pedoman Khusus
Sertifikasi untuk Perbanyakan Benih Tanaman Buah secara Vegetatif;
9. Surat Keputusan Menteri Pertanian
Nomor : 39/Permentan/OT.140/8/06, tentang Produksi Benih, Sertifikasi dan
Peredaran Benih Bina;
10. Surat Keputusan Menteri Pertanian
Nomor : 28/Permentan/SR.120/3/07, tentang Produksi Benih, Kedelai;
11. Diskripsi Jenis/Varietas yang
diberikan oleh pemulia atau instansinya.
3.5.4 Syarat – syarat Sertifikasi Benih
Permohonan sertifikasi dapat dilakukan oleh perorangan atau
badan hukum yang bermaksud memproduksi benih bersertifikat, ditujukan kepada
Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih. Permohonan sertifikasi hanya dapat
dilakukan oleh penangkar benih yang telah memenuhi persyaratan yang telah
ditentukan.
3.5.4.1 Syarat-syarat Sertifikasi Benih
Jagung Bersari Bebas Tahun 1985
3.5.4.1.1
Isolasi
1.
Pertanaman jagung yang disertifikasi harus jelas terpisah
dari pertanaman varietas lainnya dengan jarak paling sedikit 200 meter
2.
Isolasi Jarak tersebut dapat diperpendek jika
penangkaran benih bertambah luas, dengan cara membuang tanaman pinggir yang
berbatasan luas penangkaran, jarak isolasi serta jumlah baris tanaman pinggir
yang dibuang dapat dilihat pada petunjuk pemeriksaan lapangan.
3.
apabila 2 varietas yang berbeda dan bloknya
berdampingan, maka tanggal tanam diatur sedekimian rupa sehingga pada saat
berbunga berbeda kurang lebih 1 bulan. Dengan demikian tidak terjadi
persilangan.
3.5.4.1.2 Pemberitahuan
Pemeriksaan Lapangan dan Pemeriksaan Lapangan
Pemberitahuan pemeriksaan lapangan
harus sampai di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih selambat-lambatnya satu
minggu sebelum waktu pemeriksaan lapangan. Pemeriksaan lapangan
dilakukan oleh pengawas benih Balai Pengawasan Sertifikasi Benih dan Populasi
tanam yang diperiksa adalah populasi tanam dalam satu contoh pemeriksaan adalah
1,000 tanaman, Pemeriksaan lapangan tiap areal contoh haruslah Memeriksa dengan
teliti semua individu tanaman yang terdapat pada areal contoh dan Menghitung
semua varietas lain dan tipe simpang. Faktor yang diperiksa adalah tipe
pertumbuhan
Cara menghitung
persentase campuran varietas lain dan tipe simpang:
1.
Menghitung jumlah campuran varietas lain
dan tipe simpang dari hasil pemeriksaan seluruh areal contoh pemeriksaan
2.
|
![]() |
3.
Pertanaman dinyatakan memenuhi syarat
untuk benih berlabel bilamana campuran varietas lain tidak lebih dari 1,0 %
4.
Apabila dalam pemeriksaan lapangan
dipertanaman tidak dapat memenuhi standart lapangan penangkar diberi kesempatan
untuk seleksi (roguing) kembali sebelum pemeriksaan lapangan ulangan.
5.
Hasil pertanaman yang tidak memenuhi
standart lapangan tidak dapat dijadikan benih.
3.5.4.1.3
Pemeliharaan Tanaman Sebelum Pemeriksaan Lapangan
1.
Pada masa pertanaman berumur ± 20 hari harus
dibersihkan dari rerumputan dan dilakukan seleksi (roguing) terhadap varietas
lain, tipe simpang dan tanaman lain yang mungkin tumbuh dari pertanaman
sebelumnya atau tumbuh dari luar tugalan.
2.
Pada umur 2-3 minggu setelah tanam diadakan
penjarangan dengan memilih/mempertahankan tanaman yang sehat dan tegak sehingga
diperoleh populasi yang diinginkan sesuai dengan jarak tanam yang digunakan.
3.
Pada waktu pertanaman mulai berbunga, harus pula
dilakukan seleksi terhadap varietas lain dan tipe simpang (misal: tanaman yang
bermalai steril, bermalai kompak, malai bertongkol, tanaman yang tidak
bermalai, dan tongkol bermalai)
4.
Apabila pada pemeriksaan lapangan pertama atau kedua
ternyata pertanaman tidak memenuhi standart kemurnian lapangan, maka seleksi
(roguing) harus pula dilakukan setelah pemeriksaan-pemeriksaan tersebut
selesai. Kesempatan mengulang ini hanya diberikan satu kali dan bila mana pada
pemeriksaan lapangan ulangan tersebut tidak memenuhi standart, maka proses
sertifikasinya tidak dilanjutkan
5.
Hal-hal yang diperhatikan pada waktu seleksi
(roguing) adalah bentuk dan lebar daun, warna helai daun, warna batang, bentuk
dan tipe bunga jantan dan berbentuk tongkol.
6.
Setelah klobot dilepas diadakan penyelesian tongkol
yang tidak diharapkan dan biji yang tidak sewarna dibuang.
3.5.4.1.4
Pembersihan Peralatan atau Perlengkapan
Alat penanam
atau penabur benih, gerobak, dan alat panen, silo dan lain-lain perlengkapannya
yang digunakan dalam produksi benih harus bersih dan bebas dari kemungkinan
campuran dengan varietas lain.
3.5.4.1.5
Pemeriksaan Alat Pengolahan
Benih jagung
yang akan disertifikasi harus diolah dengan peralatan yang telah diperiksa dan
disyahkan mengenai kebersihannya oleh balai pengawasan sertifikasi benih.
3.5.4.1.6
Contoh benih untuk pengujian
a.
Contoh beniih yang mewakili untuk diuji
di laboratorium benih akan diambil dari setiap kelompok benih yang telah
selesai diolah guna sertifikasi
b.
Contoh benih yang diambil dari bulk benih
sebelum pengolahan hanya diijinkan untuk pengujjian daya tumbuh
c.
Pengawas benih akan mengambil contoh
benih resmi atas permintaan produsen.
3.5.4.1.7
Pengambilan Contoh benih
a.
Kelompok Benih
a. Tiap
kelompok benih tidak boleh lebih dari 20 ton.
b. Wadah
dari suatu kelompok beih harus disusun dalam satu susunan sedemikian rupa
sehingga jumlahnya dapat dihitung dengan tepat dan memudahkan pengambilan
contoh benihnya.
b.
Pengambilan contoh benih
a. Pengambilan
contoh benih dilakukan sesuai dengan peraturan atau pedoman yang dikeluarkan
oleh subdirektorat pengawas mutu dan sertifikas benih
b. Dari
tiap-tiap kelompok benih harus diambil paling sedikit 1000 gram
3.5.4.1.8
Label
Masa berlakunya
label diberikan paling lama 6 bulan sejak tanggal selesai pengujian dan paling
lama 8 bulan setelah tanggal panen. Selama masa berlakunya label harus diadakan
pengujian ulang untuk pengecekan.
3.5.4.1.9
Standart
a. lapangan
Kelas Benih
|
varietas lain dan tipe simpang (max) %
|
Isolasi jarak (min) meter
|
Benih Dasar
|
2
|
200
|
benih pokok
|
2
|
200
|
Benih Sebar label Biru
|
3
|
200
|
Benih Sebar label hijau
|
3
|
200
|
Sumber: Pedoman Sertifikasi Benih, 1985
b. Standart
Pengujian laboratorium
Kelas Benih
|
Kadar Air Max (%)
|
Benih Murni Min (%)
|
Kotoran Benih Max (%)
|
Benih Varietas lain Max (%)
|
Benih Warna lain Max (%)
|
Daya Tumbuh Min (%)
|
Benih Dasar
|
12
|
98
|
2
|
0
|
0,5
|
80
|
benih pokok
|
12
|
98
|
2
|
0,1
|
0,5
|
80
|
Benih Sebar label Biru
|
12
|
98
|
2
|
0,2
|
1
|
80
|
Benih Sebar label hijau
|
12
|
97
|
3
|
0,5
|
1
|
70
|
Sumber: Pedoman
Sertifikasi Benih, 1985
3.5.4.2 Syarat-syarat Sertifikasi Benih
Jagung Hibrida Tahun 1985
3.5.4.2.1 Benih yang dihasilkan
- “Hibrida singel cross” adalah keturunan pertama dari hasil persilangan antara dua galur murni.
- “Hibrida double cross” adalah keturunan pertama dari hasil persilangan antara galur murni dengan “singel cross”
- “Hibrida three way cross” adalah keturunan pertama dari persilangan singel cross
- “Hibrida top cross” adalah keturunan pertama dari hasil persilangan antara galur murni atau singel cross dengan varietas bersari bebas
- “Hibrida varietal cross” adalah keturunan petama dari hasil persilangan antara dua varietas bersari bebas.
3.5.4.2.2. Isolasi
- Pertanaman jagung yang disertifikasi harus jelas terpisah dari pertanaman varietas lainnya dengan jarak paling sedikit 200 meter
- Isolasi Jarak tersebut dapat diperpendek jika penangkaran benih bertambah luas, dengan cara membuang tanaman pinggir yang berbatasan luas penangkaran, jarak isolasi serta jumlah baris tanaman pinggir yang dibuang dapat dilihat pada petunjuk pemeriksaan lapangan.
- Apabila 2 varietas yang berbeda dan bloknya berdampingan, maka tanggal tanam diatur sedekimian rupa sehingga pada saat berbunga berbeda kurang lebih 1 bulan. Dengan demikian tidak terjadi persilangan.
3.5.4.2.3
Pemeriksaan Lapangan
Pemeriksaan lapangan dilakukan oleh pengawas benih
tanaman tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada produsen benih. Dikarenakan
tanaman hibrida rentan akan kemurnian genetiknya.
3.5.4.2.4
Pemeliharaan Tanaman Sebelum Pemeriksaan Lapangan
a.
Waktu Tanam / tugal untuk tanaman induk jantan dan
induk betina diatur sedemikian rupa sehingga saat berbunganya bersamaan.
b.
Pada masa pertanaman berumur berkisar 20 hari harus
dibersihkan dari rerumputan dan dilakukan seleksi (roguing) terhadap terhadap
varietas lain dan tipe simpang, serta tanaman lain yang mungkin tumbuh dari
pertanaman sebelumnya atau tumbuh dari luar tugalan.
c.
Apabila pada pemeriksaan lapangan pertanama ternyata
pertanaman tidak memenuhi standart kemurnian lapangan, maka seleksi (roguing)
harus pula dilakukan setelah pemeriksaan tersebut selesai. Kesempatan mengulang
ini hanya diberikan satu kali dan bila mana pada pemeriksaan lapangan ulangan
tidak memenuhi standart, maka proses sertifikasi tidak dilanjutkan.
d.
Pada Umur 2 – 3 minggu setelah tanam diadakan
penjarangan dengan memilih mempertahankan tanaman yang sehat sehingga diperoleh
populasi yang diinginkan sesuai dengan jarak tanaman yang diinginkan sesuai
dengan jarak tanam yang digunakan.
e.
Apabila petanaman induk betina mulai berbunga (bunga
jantan mulai tersembul), maka harus diadakan pencabutan bunga jantan sersebut
(dektaseling). Disamping itu pula dilakukan seleksi terhadap varietas lain dan
tipe simpang.
f.
Hal-hal yang diperhatikan pada waktu seleksi
(roguing) adalah bentuk dan lebar daun, warna helai daun, warna batang, bentuk
dan tipe bunga jantan dan berbentuk tongkol.
g.
Setelah klobot dilepas diadakan penyelesian tongkol
yang tidak diharapkan dan biji yang tidak sewarna dibuang.
3.5.4.2.5
Pembersihan dan perlengkapan
Alat penanam atau
penabur benih, gerobak, dan alat panen, silo dan lain-lain perlengkapannya yang
digunakan dalam produksi benih harus bersih dan bebas dari kemungkinan campuran
dengan varietas lain
3.5.4.2.6
Pemeriksaan Alat Pengolahan
Benih
jagung yang akan disertifikasi harus diolah dengan peralatan yang telah
diperiksa dan disyahkan mengenai kebersihannya oleh balai pengawasan
sertifikasi benih.
3.5.4.2.7
Contoh
Benih Untuk Pengujian
a.
Contoh beniih yang mewakili untuk diuji
di laboratorium benih akan diambil dari setiap kelompok benih yang telah
selesai diolah guna sertifikasi
b.
Contoh benih yang diambil dari bulk
benih sebelum pengolahan hanya diijinkan untuk pengujjian daya tumbuh
c.
Pengawas benih akan mengambil contoh
benih resmi atas permintaan produsen
3.5.4.2.7
Pengambilan Contoh Benih Untuk Pengujian
a.
Kelompok Benih
a. Tiap
kelompok benih tidak boleh lebih dari 20 ton.
b. Wadah
dari suatu kelompok beih harus disusun dalam satu susunan sedemikian rupa
sehingga jumlahnya dapat dihitung dengan tepat dan memudahkan pengambilan
contoh benihnya.
b.
Pengambilan contoh benih
a. Pengambilan
contoh benih dilakukan sesuai dengan peraturan atau pedoman yang dikeluarkan
oleh subdirektorat pengawas mutu dan sertifikas benihDari tiap-tiap kelompok
benih harus diambil paling sedikit 1000 gram
3.5.4.2.8
Label
Warna
Label untuk benih Jagung Hibrida komersil adalah biru, sedangkan jagung hibrida
galur inbred dan jagung bersari bebas untuk materi induk warna label ungu.
Masa
berlakunya label diberikan paling lama 6 bulan sejak tanggal selesai pengujian
dan paling lama 8 bulan setelah tanggal panen. Selama mas berlakunya label
harus diadakan pengujian ulang untuk pengecekan
3.5.4.2.9
Sandart
a. Lapangan
Keterangan
|
Hibrida Komersil
|
Hibrida Materi Induk
|
Galur Materi Induk
|
Bersari Bebas Materi Induk
|
1) Isolasi Jarak (min)
|
200 meter
|
200 meter
|
200 meter
|
200 meter
|
2) Jumlah varietas
lain/tipe simpang (max):
|
||||
pada Induk betina
|
3%
|
2%
|
-
|
-
|
pada induk jantan
|
-
|
2%
|
2%
|
2%
|
3) Jumlah bunga Jantan
pada induk betina yang telah mengeluarkan tepungsari:
|
||||
yang tertinggal pada
sekali pemeriksaan (max)
|
1%
|
1%
|
-
|
-
|
yang tertinggal dalam
tiga kali pemeriksaan (max)
|
2%
|
2%
|
-
|
-
|
Sumber: Pedoman
sertifikasi Benih, 1985
b. Laboratorium
Keterangan
|
Hibrida Komersil
|
|
Hibrida Materi Induk
|
|
Galur Materi Induk
|
|
Bersari Bebas Materi Induk
|
|
Kadar air max
|
12,0
|
%
|
12,0
|
%
|
12,0
|
%
|
12,0
|
%
|
Benih Murni min
|
98,0
|
%
|
98,0
|
%
|
98,0
|
%
|
98,0
|
%
|
Kotoran benih max
|
2,0
|
%
|
0,0
|
%
|
2,0
|
%
|
2,0
|
%
|
Benih varietas lain
max
|
0,2
|
%
|
0,0
|
%
|
0,0
|
%
|
0,0
|
%
|
Benih warna Lain max
|
1,0
|
%
|
1,0
|
%
|
1,0
|
%
|
1,0
|
%
|
Daya Tumbuh min
|
90
|
%
|
80
|
%
|
80,0
|
%
|
80,0
|
%
|
Sumber: Pedoman
Sertifikasi Benih, 1985
3.5.4.3 Sertifikasi Benih Jagung Bersari
Bebas dan Hibrida Tahun 2011
Telah diketahui pada sertifikasi
tahun 1985 – 1990 sistem yang telah diberikan oleh Balai Sertifikasi Benih
Tanaman Jagung Bersari Bebas dan Hibrida masih belum stabil dengan adanya
pasokan benih impor (dalam pengujian benih bina masih memerlukan waktu),
sebelutnya sistem sertifikasi benih tanaman jagung Bersari bebas dan Hibrida
itu sama, akan tetapi adapun sedikit perbedaan yang signifikan dari beberapa
tahap tersebut, yaitu pada pengujian daya tumbuh minimum, telah diketahui
bahwasanya daya tumbuh minimum yang tertera pada pada pengujian
laboratorium untuk semua klas benih
yaitu 80 %, sedangkan pada saat ini buku pedoman sertifikasi benih menunjukkan
bahwasanya daya tumbuh masing-masing klas benih minimum adalah 85 %,
selanjutnya perbedaannya adalah pada proses pelabelan, pada saat tahun 1985
benih sebar yang di datangkan dari luar negeri mempunyai label berwarna hijau,
akan tetapi pada saat ini label tersebut tidak terpakai lagi, akan tetapi digantikan
dengan peng-karantinaan benih bina dari luar negeri, karena pihak republik
ingin mencegah terjadinya ledakan hama dan lain-lain.
3.6
Penyimpanan
Benih
Perlakuan
yang terbaik pada benih ialah menanam benih atau disemaikan segera setelah
benih-benih itu dikumpulkan atau dipanen, jadi mengikuti cara-cara alamiah,
namun hal ini tidak selalu mungkin kareana musim berbuah tidak selalu sama,
untuk itu penyimpanan benih perlu dilakukan untuk menjamin ketersediaan benih
saat musim tanam tiba.
Tujuan
penyimpanan :
- menjaga biji agar tetap dalam keadaan baik (daya kecambah tetap tinggi)
- melindungi biji dari serangan hama dan jamur.
- mencukupi persediaan biji selama musim berbuah tidak dapat mencukupi kebutuhan.
3.6.1
Kadar
air dan ketahanan simpan benih
Tujuan penyimpanan benih
adalah mempertahankan mutu fisiologis benih yang telah diperoleh dengan cara
menekan kemunduran benih seminmal mungkin. Dengan demikian pada saat benih akan
ditanam, masih diperoleh suatu keragaan tanaman yang baik. Sebaik apapun
benyimpanan benih dilakukan, kemunduran tetap terjadi. Upaya penekanan
kemunduran benih sejauh ini hanya dari segi fisiologinya. Dengan cara
memberikan suatu lingkungan sedemikian sehingga proses metabolisme yang terjadi
di dalam benih dapat ditekan seminimum mungkin. Masih ada proses lain yang
terjadi dalam kemunduran benih yaitu proses kronologis yang akan dipengaruhi
oleh periode (lama) simpan benih. Benih dari setiap spesies memiliki jangkauan
hidup tertentu, dan serendah apapun proses fisiologis dehambat, suatu saat nanti
akan hilang juga viabilitasnya.
Lingkungan simpan dapat
dimanipulasi sedemikian rupa, apakah lembab nisbi (RH) atau suhu tergantung
dari fasilitas yang dimiliki. Faktor lembab nisbi dan suhu ruang simpan sangat
berpengaruh terhadap kemunduran benih (Welch, 1967).
Daya simpan benih dapat
diperpanjang dengan cara mengatur lembab nisbi di ruang simpannya, karena
antara benih dan lembab nisbi di sekitarnya selalu terjadi keseimbangan. Kadar
air akan meningkat apabila benih disimpan pada suatu ruang simpan dengan lembab
nisbi yang tinggi. Jika nisbi ruang simpan rendah, kadar air keseimbangan benih
jagung meningkat dengan kian meningkatnya lembab nisbi ruang simpan, dan kadar
air benih menurun apabila lembab nisbi ruang simpan rendah. Waktu yang
diperlukan oleh absorbsi (penyerapan uap air) lebih cepat dibanding dengan
desorbsi (pengeluaran air dari benih) terutama pada tingkat lembab nisbi yang sangat rendah yaitu
42,5 – 52,5 %.
3.6.2
Vigor
awal benih
Vigor awal benih
memegang peran penting terhadap kemunduran benih. Benih dengan daya berkecambah
yang sama setelah disimpan beberapa waktu ternyata menunjukkan ketahanan simpan
yang berbeda. Hasil penelitian di mississippi state University, amerika serikat
menunjukkan bahwa benih jagung yang pada awal periode simpan menunjukkan daya
berkecambah yang tidak berbeda nyata menunjukkan ketahanan simpan yang berbeda
(Delouche, 1971).
BAB
4. SIMPULAN
Telah
diketahui bahwaasanya untuk produksi benih Jagung bersari bebas dan Jagung
Hibrida memerlukan sebuah penanganan yang lebih khusus daripada hanya budidaya
Jagung biasa. Untuk memperoleh produksi jagung yang baik haruslah mencermati
atau teliti pada saat memilih benih dan cara perlakuannya, terutama
diperhatikan juga pada pada saat pengolahan tanah, karena pada saat tersebut
adalah awal dari keberhasilan memproduksi benih. Dikarenakan jika pengolahan
tanah tidak benar akan mengakibatkan benih tidak akan tumbuh dengan optimal,
dan juga pada saat memproduksi benih jagung tak lupa dilakukan roguing, yaitu
mencabut tanaman lain atau tipe simpang, dan untuk produksi benih Jagung
Hibrida juga tak lupa pula dilakukannya pelaksanaan dektaseling. Proses panen
dan pasca panen juga akan menentukan kualitas dan kuantitas benih, karna jika
pada saat penanganan panen dan pasca panen tidak benar maka yang terjadi adalah
kemurnian benih tidak akan sempurna.
Hal yang harus dipenuhi pada saat
pertanaman produksi benih jagung bersari bebas dan hibrida ialah proses
sertifikasi benih, karena pada saat tersebut benih nantinya akan legal apabila
di pasarkan kembali, tanpa adanya proses tersebut benih tidak dapat diedarkan
di pasaran.
Proses yang mempengaruhi pada saat
produksi benih ialah pada saat roguing dan dektaseling atau pencabutan bunga
jantan, dikarenakan pada saat tersebut mencakup dengan kemurnian benih.
DAFTAR PUSTAKA
Akil, M., M.
Rauf, I.U. Firmansyah, Syafruddin, Faesal, R. Efendi, dan A. Kamaruddin. 2005.
Teknologi budi daya jagung untuk pangan dan pakan yang efisien dan
berkelanjutan pada lahan marjinal. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros,
p.15-23.
Anonymous.
1995. Pengenalan hama dan penyakit tanaman jagung serta pengendaliannya.
Monograf Balittan Malang No.13:1-14.
Anonymous.
1989. Pengenalan Penyakit Penting pada Tanaman Padi dan Palawija dan Cara
Pengendaliannya. Direktorat perlindungan Tanaman Pangan, Jakarta. 138 hal.
Baker, K.F.
1972. Seed Pathology. Dalam Kozlowski, T.T., Seed Biology, v. 2, hlm. 317 –
416, allus. New York.
Direktorat
Jenderal Perkebunan. 1976. Pedoman pengendalian tumbuhtumbuhan
pengganggu. Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta. 79p.
pengganggu. Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta. 79p.
Efendi, R.
dan A.F. Fadhly. 2004. Pengaruh sistem pengolahan tanah dan pemberian pupuk
NPKZn terhadap pertumbuhan dan hasil jagung. Risalah Penelitian Jagung dan
Serelaia Lain. 9:15-22.
Fadhly,
A.F., R. Efendi, M. Rauf, dan M. Akil. 2004. Pengaruh cara penyiangan lahan dan
pengendalian gulma terhadap pertumbuhan dan hasil jagung pada tanah bertekstur
berat. Seminar Mingguan Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros, 18 Juni 2004,
14p.
Flint,
M.L. and R. van den Bosch. 1990. Pengendalian Hama Terpadu, Sebuah Pengantar.
Penerbit Kanisius. Pp.144
Oka,
I.N. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gadjah
Mada University Press. 255 hal.
Ortega,
C.A. 1987. Insect pests of maize. A Guide for Field Identification. CIMMYT
Mexico. Pp.106.
Pabbage,
M.S. 2003. Potensi pemanfaatan parasitoid telur Trichogramma evanescens
Westwood dalam pengendalian hama penggerek batang jagung, Ostrinia
furnacalis Guenee. Makalah Seminar Jatidiri persyaratan kenaikan pangkat
IVb ke IVc. Balitsereal. Jumat 5 Desember. 19 hal.
Painter,
R.H. 1951. Insect Resistan in Crop Plants. The Mac Millan Company. New York.
Pp.520.
Pedoman
Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikulturan Wilayah III Jawa Timur, 1985
Pedoman
Sertifikasi Benih Tanaman pangan dan Hortikultura Wilayah III Jawa Timur,
Satgas V Jember. 2004
Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanaman Jagung. 1988, Jagung. Bogor, Indonesia
Rizal, A.
2004. Penentuan kehilangan hasil tanaman akibat gulma. Dalam: S. Tjitrosemito,
A.S. Tjitrosoedirdjo, dan I. Mawardi (Eds.) Prosiding Konferensi Nasional XVI
Himpunan Ilmu Gulma Indonesia, Bogor, 15-17 Juli 2003. 2: 105-118.
tanaman
jagung di Indonesia. Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor:127-129.
Saleh,
K.M. 1993. The use of resistant varieties and insecticide applications in
controlling insect pests and the effects of resistant varieties on parasitoid
development. Proceeding of the Symposium on Integrated Pest Management Control
Component. Biotrop Special Publication No.50:157-165.
Semangun,
H. 1993. Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta. 449 hal.
Shurtleff,
M.C. 1980. Compendium of Corn Diseases. Second Edition. The American
Phythological Society. USA. Pp.105.
Sudjono,
M.S. 1988. Penyakit Jagung dan Pengendaliannya. Dalam Subandi, M.
Syam, dan A. Widjono. 1988. Jagung. Puslitbangtan Bogor. Hal.205-241.
Sumartini
dan Srihardaningsih. 1995. Penyakit-Penyakit Jagung dan Pengendaliannya. Dalam
Pengenalan Hama dan Penyakit Tanaman Jagung serta Pengendaliannya. Monograf
Balittan Malang No. 13:1-14.
Tandiabang,
Y. 2000. Pengelolaan hama utama tanaman jagung. Prosiding Aplikasi Paket
Teknologi pertanian Sulawesi Tengah. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian.
Badan Litbang Pertanian. Jakarta : 16 hal.
Tjitrosedirdjo,
S., I.H. Utomo dan J. Wiroatmodjo. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Badan
Penerbit Kerjasama Biotrop Bogor dan Gramedia, Bogor, 210 p.
Wakman,
W., M.M. Dahlan, dan M.S. Kontong. 1999. Varietas jagung unggul nasional
tahan penyakit bulai di akhir abad ke-20. Makalah disajikan pada Seminar
Tahunan Perhimpunan PFI, PEI dan HPTI Komisariat Sulawesi Selatan di UNHAS, 8
hal.
Wakman,
W. 2000. Downy mildew disease of maize in Indonesia : Problem, Research, and
solving. Paper presented at the International Congress and Symposium on
Southeast Asian Agricultural Sciences (IC-SAAS). Bogor Agricultural University.
6-8 November 2000. 9 pages.
Wakman,
W., M.S. Kontong, A. Muis, D.M. Persley, and D.S. Teakle. 2001. Mosaic disease
of maize caused by sugarcane mosaic potyvirus in Sulawesi. Indonesian Journal
of Agricultural Science. 2(2):56-59.
Wakman,
W. 2002. Penyakit utama tanaman jagung di Indonesia. Makalah disajikan pada Seminar
Expose Palawija di BPTP Lampung 16-18 Oktober 2002, 12 hal.
Wakman,
W. dan H.A. Djatmiko. 2002. Sepuluh spesies cendawan penyebab penyakit bulai
pada tanaman jagung. Makalah disajikan pada Seminar PFI di Purwokerto 7
September 2002. 10 hal.
Wakman,
W. dan Hasanuddin. 2003. Penyakit bulai (Peronosclerospora sorghi)
pada jagung di dataran tinggi Karo Sumatera Utara. 10 hal. (Belum
dipublikasikan).
Wakman,
W. 2004a. Varietas jagung tahan penyakit hawar daun di dataran tinggi. Seminar
Mingguan Balitsereal. Jumat 30 April : 4 hal.
Wakman,
W. 2004b. Bercak daun kelabu, penyakit utama kedua pada jagung di dataran
tinggi. Seminar Mingguan Balitsereal. 4 hal
Widiyati,
N., A.F. Fadhly, R. Amir, dan E.O. Momuat. 2001. Sistem pengolahan tanah dan
efisiensi pemberian pupuk NPK terhadap petumbuhan dan hasil jagung. Risalah
Penelitian Jagung dan Serealia Lain.
kamu pernah melakukannya gk?
BalasHapusMenambah wAsasan trims
BalasHapusjagung hibrida, jagung hibrida adalah, keunggulan jagung hibrida
BalasHapus